Agar Kritikan Tidak Menimbulkan Kemarahan

Biasanya, Imam Daud at-Thai mengisi hari-harinya dengan berkumpul bersama masyarakat. Perkumpulan itu beliau isi dengan obrolan untuk menjernihkan kerumitan rumahtangga. Kadang pula beliau isi dengan menyampaikan ilmu agama. Suatu hari, beliau tidak lagi keluar rumah. Kejadian itu berlangsung sampai beberapa hari. Akhirnya, salah satu masyarakat memberanikan diri untuk sowan kepada beliau dan menanyakan prihal keputusan beliau untuk berhenti berkumpul bersama masyarakat sekitar. Mendengar pertanyaan itu, beliau menjawab, “Buat apa aku berkumpul bersama orang-orang yang menyembunyikan aibku”.

***

Imam Daud at-Thai memiliki karakter yang jarang dimiliki orang lain. Biasanya, seseorang merasa risih apabila dikritik. Contonya, ketika seseorang mengkritik kinerja orang lain pasti kritikan tersebut akan dibalas dengan kritikan yang tak kalah pedas.

Baca Juga : Pesona Wanita Cantik yang Sesungguhnya

Sikap seperti di atas tentu menunjukkan sikap kurang bijak. Seharusnya, orang bijak membalas kritikan itu dengan kinerja yang lebih baik. Bukan malah membalasnya dengan kritikan juga. Justru membalas kritrikan dengan kritikan menandakan adanya ‘penyakit’ di dalam hatinya.

Sebenarnya, munculnya emosi ketika mendengar kritikan itu disebabkan sikap seseorang yang ‘sok sempurna’. Kebanyakan orang memang memiliki prasaan demikian. Sikap ‘sok sempurna’ ini merupakan bagian kecil rasa sombong yang hinggap di hati manusia.

Jika prasaan ini telah menjadi karakter, tentu dia akan marah bila dikritik orang lain. Kesombongan itu membawa dirinya menilai bahwa orang lain telah mencedrai kesempurnaannya. Pada saat itu dia telah kehilangan separuh kesadarannya bahwa manusia tercipta dengan sejuta kekurangan.

Sakit hati ketika dikritik ini memang sudah menjadi penyakit setiap orang. Ini disebabkan mereka keliru dalam memposisikan kritikan. Selama ini kritikan selalu diberi nilai minus. Kritikan selalu dimaknai sebagai cacian, pelecehan dan makna negatif lain yang mengganggu hati. Dengan demikian, pengkritik akan diberi nilai minus pula. Mereka dianggap pemfitnah, penjilat dan anggapan negatif yang lain. Sikap seperti di atas nantinya akan menarik beberapa kerusakan yang lain. Ia akan membuka kran permusuhan dan lalai dengan kekurangannya sendiri lantaran sibuk memikirkan orang lain.

👉 TRENDING :  Ketika Pendamping Hidup Tutup Usia

Baca Juga: Mengembalikan Budaya Menghafal yang Telah Punah

Berbeda dengan orang bijak. Mereka memaknai kritikan dengan nilai positif. Bagi mereka kritikan adalah jamu; pahit tapi menyehatkan. Pengkritik juga akan diberi nilai tinggi. Dia dianggap sebagai dokter yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Orang yang mempunyai tipe seperti ini juga akan cendrung berterimakasih kepada orang yang telah mengeritik karena sudah sudi menilai dirinya dengan cuma-cuma. Akhirnya beban untuk menilai diri sendiri akan sedikit terkurangi.

Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumiddin-nya memberikan resep agar bijak menanggapi kritikan. Beliau menyarankan agar aib dalam diri kita diposisikan sebagaimana ular. Ketika ada orang yang mengingatkan kita bahwa di sekitar kita ada ular, tentu kita akan menyelamatkan diri. Diri kita juga tidak akan membenci orang yang telah memberi tahu.

Demikian pula dengan aib dalam diri kita. Kita sering tidak menyadari bahwa aib dalam diri kita jauh lebih ‘berbisa’ daripada ular. Jika bisa ular dapat membahayakan saraf dalam tubuh kita maka aib dalam tubuh kita akan menjadi karakter yang dapat merusak akal dan hati kita. Akhirnya kita tidak mampu berpikir sehat dan sulit mengendalikan emosi. Pada saat seperti inilah tindakan amoral rawan terjadi.

Lebih dari hal itu, kritikan itu sebenarnya dapat kita jadikan sebagai cermin. Cermin adalah media untuk mengetahui kotoran yang tak dapat dijangkau mata. Begitu pula dengan kritikan. Kritikan adalah cermin kita yang dapat menjadi media untuk mengetahui aib yang tak bisa kita rasakan.

Oleh karena itu, sikap yang semestinya kita ambil ketika menerima kritikan adalah mengubah objek kritikan itu menjadi lebih baik. Bagaimanapun, perlu kita sadari bahwa objek kritikan itu adalah kekurangan yang tak tampak oleh diri sendiri namun dirasakan oleh orang lain. Dengan sikap seperti ini, kekurangan akan berubah menjadi kelebihan dan kran permusuhan pun akan teratasi.

👉 TRENDING :  Ketika Pendamping Hidup Tutup Usia

Faiz Jawami’ Amzad