Tolak Hermeneutika, Tafsir Sesat Warisan Barat

Tolak Hermeneutika, Tafsir Sesat Warisan Barat – Pemikiran-pemikiran liberal, sekuler, dan berbagai nama lainnya yang berasal dari Barat telah merasuki banyak kepala umat Islam. Paradigma yang berkembang dalam pemikiran sebagian besar umat Muslim di dunia ini pun bergeser. Unsur-unsur kesucian al-Quran seperti luntur di mata mereka.

Semua itu bersumber dari derasnya buku-buku pemikiran yang mengupas al-Quran dengan studi-studi berdasarkan ilmu-ilmu dari Barat. Apalagi berbagai seminar dan acara-acara lain diadakan untuk memenuhi target operasi para budak pemikiran Barat ini. Dengan banyaknya tokoh-tokoh mereka yang tampil, mereka seakan menantang para cendekiawan Islam yang masih suci pemikirannya.

Salah satu pemikiran yang mengupas al-Quran adalah motode penafsiran hermeneutika. Tema ini telah menarik perhatian banyak pihak, semenjak digelindingkannya suatu upaya sistematik untuk meliberalkan kurikulum Islamic Studies di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Semenjak langkah strategis itu diluncurkan di era kepemimpinan Munawir Syadzali di Departemen Agama dan Harun Nasution di IAIN Jakarta tahun 1980-an. Lalu ada apa dengan hermeneutika? Dan kenapa kita harus menolaknya?

Baca juga : Rahasia di Balik Sholat Ashar

Ada beberapa masalah, kenapa kita menolak hermeneutika. Pertama, hermeneutika berasumsi bahwa bahasa merupakan alat untuk mentransfer ide, namun mempunyai keterbatasan, sehingga membutuhkan tafsir yang baik. Kedua, untuk menafsirkan sebuah teks bahasa seorang penafsir (hermeneut) harus melihat secara utuh latar belakang pemilik atau yang menciptakan teks bahasa yang bersangkutan (Allah), pun termasuk aspek sejarah kehidupan, aspek psikologi, dan aspek kehidupan sosial-Nya. Dari situlah penafsir membaca dan menyimpulkan teks yang bersangkutan. Ketiga, karena itulah kata Friedrich Schleiermacher seorang penafsir hermeneutika akan bisa memahami teks lebih baik daripada pemilik atau pencipta teks itu sendiri.

👉 TRENDING :  Tidur Juga Membawa Pahala

Asumsi di atas sangat bermasalah jika diperlakukan pada kesakralan al-Quran, karena tidak semua teks bahasa memiliki keterbatasan dalam menyampaikan pesan, asumsi ini sangat digeneralisasi. Jika semua ungkapan bahasa membutuhkan tafsiran, niscaya kita tidak bisa berkomunikasi. Faktanya kita bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa karena kita bisa saling memahami terhadap ungkapan bahasa yang kita keluarkan.

Barangkali teks yang membutuhkan pemahaman mendalam adalah teks sastra seperti puisi, karena teks ini biasanya merupakan ungkapan batin pencipta. Sedangkan al-Quran bukan teks sastra, al-Quran kendatipun indah tetapi merupakan kalam yang balighah, sebagai hudan dan furqan.

Baca Juga : Agar Kritikan Tidak Menimbulkan Kemarahan

Jika teks al-Quran dipaksa dengan asumsi ini semua makna teks al-Quran akan menjadi nisbi atau relatif, sehingga fungsi sebagai hudan dan furqan akan kabur. Nasir Hamid Abu Zaid memaksakan hermeneutika sehingga mengatakan bahwa al-Quran adalah teks bahasa dan teks sastra, sehingga bisa diproses dengan hermeneutika. Ini sangat berbahaya.

Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh para ulama dalam memahami makna teks al-Quran. Mereka membagi teks ada yang lafadznya jelas dan ada yang berupa kiasan, ada yang khusus ada yang umum, ada yang mutlaq ada yang muqayyad. Yang jelas ada beberapa tingkatan mulai dzahir, nash, mufassar, dan muhkam. Dari model pembagian ini kemudian para ulama menetapkan kaidah kapan takwil dilakukan. Tidak semua teks membutuhkan takwil. Lafadz yang sudah muhkam atau mufassar tidak boleh ditakwil karena maknanya mono tafsir.

Maka ulama kita memberi batasan bahwa takwil itu mengalihkan makna dari dzahir ke makna lain karena ada alasan. Misalnya kata ‘yad’ bila dinisbatkan kepada Allah bisa menimbulkan masalah, sehingga perlu digeser maknanya menjadi kekuasaan, dan sebagainya. Dan sekarang para pengagum hermeneutika mencoba menyamakan takwil dengan hermeneutika, ini akan sangat bermasalah karena akan berdampak pada semua teks harus ditakwil.

👉 TRENDING :  Arsitektur Islam, Seni Ruang dalam Peradaban Islam

Baca Juga : Mengembalikan Budaya Menghafal yang Telah Punah

Kalau mengacu pada penjelasan di atas bahwa untuk menafsirkan teks harus memahami historisitas dan psikologi serta aspek sosiolog penulis atau pencipta teks, asumsi ini sangat bermasalah bila diterapkan pada al-Quran. Al-Quran adalah kalam Allah I. Siapa yang tahu historisitas Allah, psikologi Allah, aspek sosiologi Allah ketika berfirman? Ini bisa kacau. Maka Nasr Abu Zaid memaksa mereduksi al-Quran menjadi teks manusia, bukan teks Tuhan. Dengan itu asumsi bahwa al-Quran adalah teks manusia, sehingga bisa ditafsirkan dengan menggunakan hermeneutika.

Juga kata Nasr Hamid, al-Quran adalah interpretasi Muhammad terhadap wahyu, bukan wahyu itu sendiri. Dan kata Arkoun, al-Quran setelah diturunkan ke bumi menjadi teks manusia, apalagi setelah dibukukan, sehingga menjadi teks tertutup. Maka untuk memahaminya perlu analisis hermeneutika. Semua asumsi-asumsi ini sangatlah problematik. Dilakukan karena ingin memaksakan agar al-Quran dapat dianalisa menggunakan hermeneutika.

Juga para penganjur hermeneutika berangkat dari asumsi bahwa al-Quran adalah teks bahasa yang mempunyai historisitas mereka sedang mengobrak abrik sejarah al-Quran. Kesimpulan mereka, sejarah al-Quran juga bermasalah. Kata mereka, dalam proses pembukuan al-Quran terdapat proses rekayasa politik.

Ulil dalam sebuah diskusi di sebuah gereja di Surabaya mengatakan, bahwa sejarah al-Quran itu dilema membingungkan. Luthfi Assyaukani mengatakan, sejarah al-Quran delicate. Mereka menuduh dulu al-Quran tidak ada titik dan harakat, sekarang ada. Apa tidak bisa terjadi kekacauan, misalnya orang membaca yaqusshu bisa sama dengan yaqdli, karena kalau tidak ada titik tulisannya sama. Padalah al-Quran ditransfer dari generasi ke generasi berbasis pada hafalan bacaan, bukan pada tulisan. Ketika Sayyidina Utsman mengirim mushaf ke daerah-daerah disertai dengan para qâri’ yang mengawal bacaannya, para qâri’ ini adalah para penghafal al-Quran.

👉 TRENDING :  Arsitektur Islam, Seni Ruang dalam Peradaban Islam

Baca Juga : Saatnya Mengamalkan Ilmu yang Didapat

Celakanya orang-orang liberal hanya membebek pada tulisan orientalis utamanya Arthur Jeffery. Mereka gunakan riwayat-riwayat yang lemah dan syadz untuk menciptakan keraguan terhadap al-Quran. Padahal kaum orientalis itu tidak pernah jujur dan konsisten, yang pokok bagi mereka adalah hanya bagaimana menciptakan keraguan. Lihat saja ketika mengkaji Hadis dengan teori common link dengan argumentum e ‘silentio’ mereka membikin kesimpulan semua Hadis tidak bersambung sampai Nabi Muhammad Saw. Tetapi diciptakan ulama abad ke-2 dan ke-3 hijriyah. Mereka menolak metode hadis kaum muslimin. Namun apa yang terjadi, ketika mengkaji sejarah al-Quran mereka gunakan riwayat-riwayat  bermasalah untuk mendukung argumennya. Maka kita bisa melihat, bahwa cara kerja orientalis adalah membikin ragu. Sehingga pada akhirnya umat Islam bimbang dan berkesimpulan sendiri bahwa Islam sama dengan Kristen, sama-sama bersumber dari dasar yang meragukan. Bibel meragukan, mereka ingin agar kita juga mengatakan al-Quran dan Hadis meragukan.

Jadi kesimpulannya, hermeneutika bermasalah mulai dari asumsi-asumsinya. Karena itu, jika kerja hermeneutika diterapkan pada al-Quran akan bermasalah. Sehingga al-Quran tidak membutuhkan hermeneutika. Cukuplah ilmu tafsir yang sudah dibuat oleh para ulama.

Faiz Jawami’ Amzad