Arsitektur Islam, Seni Ruang dalam Peradaban Islam

Arsitektur Islam, Seni Ruang dalam Peradaban Islam – Manusia sebagai khalifah, dalam hal ini berkaitan dengan fungsi arsitek, memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, mengelola alam untuk melakukan aktivitasnya di muka bumi, dengan prinsip keseimbangan dan keselarasan. Arsitektur sebagai salah satu bidang keilmuan, hendaknya juga berpijak pada nilai-nilai Islam yang bersumber pada al-Quran. Wujud arsitektur yang muncul dari kreasi seorang arsitek, hendaknya melambangkan nilai-nilai Islam. Artinya, wujud arsitektur yang hadir tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, ketentuan syariah, dan tentu saja nilai-nilai akhlakul karimah.

Arsitektur Islam merupakan wujud perpaduan antara kebudayaan manusia dan proses penghambaan diri seorang manusia kepada Tuhannya, yang berada dalam keselarasan hubungan antara manusia, lingkungan dan Penciptanya. Arsitektur Islam mengungkapkan hubungan geometris yang kompleks, hirarki bentuk dan ornamen, serta makna simbolis yang sangat dalam. Arsitektur Islam merupakan salah satu jawaban yang dapat membawa pada perbaikan peradaban. Di dalam arsitektur Islam terdapat esensi dan nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan tanpa menghalangi pemanfaatan teknologi bangunan modern sebagai alat dalam mengekspresikan esensi tersebut.

Perkembangan arsitektur Islam dari abad VII sampai abad XV meliputi perkembangan struktur, seni dekorasi, ragam hias, dan tipologi bangunan. Daerah perkembangannya meliputi wilayah yang sangat luas, meliputi Eropa, Afrika, hingga Asia Tenggara. Karenanya, perkembangannya di setiap daerah berbeda dan mengalami penyesuaian dengan budaya dan tradisi setempat, serta kondisi geografis. Hal ini tidak terlepas dari kondisi alam yang mempengaruhi proses terbentuknya kebudayaan manusia.

Baca Juga : Dampak Wanita Terlalu Baperan

Arsitektur yang merupakan bagian dari budaya, selalu berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Oleh karena itu, Islam yang turut membentuk peradaban manusia juga memiliki budaya berarsitektur. Budaya arsitektur dalam Islam dimulai dengan dibangunnya Kakbah oleh Nabi Adam As, sebagai pusat beribadah umat manusia kepada Allah. Kakbah juga merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di bumi. Tradisi ini dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim As bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Mereka berdua memugar kembali bangunan Kakbah. Setelah itu, Nabi Muhammad Saw melanjutkan misi pembangunan Kakbah ini sebagai bangunan yang bertujuan sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT.

👉 TRENDING :  Bolehkah Mengambil Uang Suami karena tak Dinafkahi?

Dari sinilah budaya arsitektur dalam Islam terus berkembang dan memiliki daya dorong yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mencapai arti secara fungsional dan simbolis. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, arsitektur Islam merupakan salah satu gaya arsitektur yang menampilkan keindahan yang kaya akan makna. Setiap detailnya mengandung unsur simbolisme dengan makna yang sangat dalam. Salah satu makna yang terbaca pada arsitektur Islam itu adalah bahwa rasa kekaguman kita terhadap keindahan dan estetika dalam arsitektur tidak terlepas dari kepasrahan dan penyerahan diri kita terhadap kebesaran dan keagungan Allah sebagai Dzat yang memiliki segala keindahan.

Bahkan sejak zaman Nabi Sulaiman AS, telah dibangun suatu karya arsitektur yang menampilkan keindahan dan kemegahan itu. Hal ini tertuang dalam al-Quran Surat an-Naml 44: “Dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, ‘Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis,  ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.’”

Baca Juga : Pesona Wanita Cantik yang Sesungguhnya

Dengan segala keindahan, kemegahan, dan kedalaman maknanya, arsitektur Islam yang pernah berjaya dan menjadi salah satu tonggak peradaban dunia memiliki beberapa potensi yang dapat mencerahkan kembali kejayaan Islam yang selama beberapa abad terakhir ini mengalami kemunduran. Potensi-potensi ini bukan hanya ditujukan untuk menghadapi pengaruh dari kebudayaan Barat yang mengglobal dan menginginkan persamaan identitas dari berbagai budaya, namun juga untuk kepentingan pengembangan arsitektur Islam sendiri.

👉 TRENDING :  Jihad Perempuan Masa Kini

 

Ending

Beberapa contoh di atas memberikan satu pelajaran, bahwa perilaku dan akhlak yang dilandasi nilai-nilai Islam yang mendasari lahirnya karya arsitektur Islam, tidaklah dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita dapat melihat karya-karya arsitektur Islam di berbagai belahan dunia dengan tujuan yang satu, yaitu untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah I. Lebih lanjut, terwujudnya beberapa hasil karya arsitektur Islam yang didasari nilai-nilai Islam dapat pula membentuk satu perilaku dan akhlak yang menuju kepribadian dan citra diri Islam yang dibentuk dari lingkungan tersebut.

Arsitektur Islam yang dilandasi oleh akhlak dan perilaku Islami tidak mempunyai representasi bentuk yang satu dan seragam, tetapi arsitektur Islam mempunyai bahasa arsitektur yang berbeda, tergantung dari konteks dimana dan apa fungsi dari bangunan yang didirikan tersebut. Karya arsitektur Islam tidak pula dibatasi oleh wilayah benua dan negara, karena kita akan melihat kekayaan arsitektur Islam dari keragaman tempat yang membawa ciri khas dari wilayah masing-masing negara tersebut. Dari keberagaman tersebut, akhirnya dapat dihadirkan satu kekayaan khazanah arsitektur Islam yang melandasi lahirnya peradaban Islam yang membawa manusia pada rahmatan lil alamin.[]

 

Oleh: Imamatul Khoiroh

Penulis ketua PP Nurul Huda Putri Surabaya.

Jl. Sencaki No. 64 Simokerto Surabaya

Dan Mahasiwi LPBA Masa Surabaya.