Jihad Perempuan Masa Kini

Jihad Perempuan Masa Kini – Hari itu, 3-Hijriyah. Rasulullah Muhammad SAW bersama balatentara Islam di hari yang sangat terik dan begitu melelahkan, tampil dengan sangat percaya diri melawan pasukan kafir Quraisy di lembah Uhud. Rasulullah r dengan taktik perang yang sangat mapan berhasil memukul mundur pasukan musuh, dan telah mendekati kemenangan. Namun kenyatan berkata lain, pasukan yang telah disiapkan Nabi harus kocar-kacir hanya karena ada ketidak patuhan sekelompok pasukan untuk berdiam diri menjaga yang lain apapun yang terjadi. Akhirnya panglima kafir Quraisy, Khalid bin walid-yang waktu itu masih kafir-menemukan celah kelengahan umat Muslim sehingga berhasil memutar keadaan. Keadaan benar-benar berubah. Hal yang sangat tak terbayangkan sebelumnya. Sampai-sampai Rasulullah r harus jatuh bangun menghadapi serangan musuh, hingga membuat gigi serinya patah.

Keadaan yang begitu mencekam. Membuat hati seorang perempuan shahabiyah merasa terpanggil untuk membantu perjuangan kaum muslimin. Merasa tidak sampai hati jika harus melihat sang kekasih pujaan hati Muhammad SAW  tertusuk duri sekalipun. Sedangkan dia bersembunyi di balik selimut yang tebal, hanya karena dia perempuan. Tidak! Dia mengajukan diri kepada sang baginda untuk turut serta berjuang di jalan-Nya, walaupun dia tahu dia seorang perempuan. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga seorang prajurit laki-laki yang paling lemah sekalipun. Tapi paling tidak, dia bisa menunjukkan rasa cintanya yang sangat besar kepada sang baginda, kepada agamanya. Sehingga Rasulullah SAW  tak melihat di hadapan beliau, di samping dan di belakang beliau, kecuali Rasululah r  melihat Ummu Imarah sedang berlaga menghadapi musuh.

 

Reinkarnasi Jihad Ummu Imarah

Tidak hanya ketika dulu di zaman shahabat. Sekarang, ketika berlayar di dunia maya, dan browsing tentang Palestina, maka yang akan tergambar adalah sebuah negeri yang tengah porak-poranda dalam jajahan Yahudi Israel. Tapi di dalam ketidak berdayaannya, warga Palestina tetap tegar mengangkat kepala di bawah hegemoni Israel. Laki-laki, baik tua atau muda dan anak-anak dari yang sudah dewasa sampai yang masih muda, bahkan sampai perempuan-perempuan yang seharusnya tak bersentuhan dengan benda-benda seperti senapan laras panjang pun harus bahu-membahu mengangkat senjata, demi menegakkan martabatnya sebagai seorang Muslim dan demi mempertahankan bumi al-Quds, bumi suci warisan para Nabi.

👉 TRENDING :  5 Cara Berbakti kepada Orang Tua

Baca Juga : Begini Potensi Istri Cerewet

Perempuan, makhluk Tuhan yang seharusnya identik dengan kehalusan, selalu mendapat belain kasih sayang, dan selalu disimpan dalam surga rumah tangga, terpaksa harus memanggul senjata demi bumi tercinta dan agamanya. Rasanya para perempuan ini sudah lupa atau bahkan tidak sempat kenal sama sekali dengan istilah pacaran, memadu kasih dengan lawan jenis di masa-masa remaja, chating-chatingan, atau  bahkan untuk sekedar berdandan merias tubuh sambil belanja di mal-mal. Musik mereka bukan lagu-lagu dari Mp3 yang memekakkan telinga, tapi dentuman bom siang malam ditengah sayup-sayup teriakan semangat jihad adalah lagu mereka. Mereka tak sempat untuk berpose narsisnarsisan di Facebook, akan tetapi siang malam mereka sibuk berebut syahid di depan moncong tank-tank Zionis Israel.

Perempuan berjihad? Ya, Mereka adalah perempuan. Tapi mereka tidak mau kalah dengan kaum laki-laki dalam hal ini. Bukan seperti perempuan-perempuan yang membawa spanduk di tengah-tengah jalanan kota menjunjung paham tentang emansipasi wanita.

 

Jihad dalam Persepektif

Dalam literatur kitab fiqih dijelaskan, bahwa definisi dari Jihad sendiri adalah berperang melawan musuh Islam demi menegakkan kalimat Allah, menjaga kehormatan dan lain sebagainya. Maka, seorang Muslim dimanapun berada juga tetap harus berjuang melawan musuh Islam yang dalam hal ini bisa kita anggap keangkara murkaan, tak terkecuali perempuan. Benar, ini bukan Palestina. Tapi musuh tidak tinggal diam saja membiarkan umat Islam di seluruh dunia. Mereka terus menyerang umat Islam dengan amunisinya yang tak berupa rudal dan semacamnya, tapi dengan fasilitas-fasilitas hidup yang begitu memanjakan dan benar-benar membunuh jati diri umat Islam. Karena tentunya mereka tidak akan rela selama-lamanya, sebelum kita ikut pada agama mereka, sebagai mana yang di terangkan Allah dalam kitab-Nya.

👉 TRENDING :  5 Cara Berbakti kepada Orang Tua

Baca Juga : Mengenal Karakter Wanita yang Hebat

Perempuan masa kini. Perempuan yang mungkin benar-benar telah mencapai pada taraf ‘kemapanan’. Telah bisa bersaing mendapatkan tempat untuk sama-sama mengenyam pendidikan yang layak, kedudukannya telah nyaris sama atau bahkan telah mampu menyamai kedudukan kaum laki-laki. Bukan lagi seorang makhluk Tuhan yang hanya berkutat dengan dapur, kamar mandi, dan kasur. Mereka ingin bekerja, terbuka, berpolitik, bereksploitasi mencari sensasi, bahkan –mungkin- jika telah sampai waktunya mereka tak mau dianggap sebagai seorang perempuan. Na’udzubillah.

Dulu di zaman Rasulullah r ada sebagian para shahabiyah Rasul yang ‘bersikeras’ untuk juga maju ke medan tempur -seperti cerita di awal tulisan ini-. Ada sebagian lagi yang merasa iri dengan kaum laki-laki yang menurutnya lebih banyak mendapatkan tempat untuk mengumpulkan pundi-pundi  pahala. Laki-laki wajib shalat Jumat, bekerja mencari nafkah demi keluarga, dan berjihad di jalan Allah demi menegakkan agamanya. Perempuan-perempuan itu iri dengan itu semua. Dengan pahalanya. Bukan dengan gemerlap kebebasan semu yang didengung-dengungkan perempuan modern masa kini. Padahal dengan menjadi istri yang baik, yang berbakti kepada sang suami dan mengerjakan semua pekerjaannya dengan ikhlash hati, sudah sangat cukup untuk dapat mengantarkannya menuju surga Firdaus. Allah berfirman: ”…maka perempuan-perempuan  yang shaleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada,…”(QS. An-Nisa’: 34)

Sebenarnya, jika mengadakan survey pada seluruh laki-laki jenis apapun, perempuan bagaimana yang mereka dambakan untuk menjadi calon pendamping hidup? Maka jawabannya dapat dipastikan kalau mereka mendambakan seorang perempuan yang bisa mendatangkan ketentraman di dalam rumah tangga. Bukan yang super model papan atas dengan kegelamorannya yang begitu wah, cantik tiada tara, keturunan orang kaya dan terhormat. Karena itu semua hanyalah hiasan semu belaka yang tiada artinya jika tanpa keharmonisan.

👉 TRENDING :  5 Cara Berbakti kepada Orang Tua

Baca Juga : Pesona Wanita Cantik yang Sesungguhnya

Kaum laki-laki mengharapkan seorang perempuan yang menjadi hiasan terindah dunia, perempuan shalehah. Seorang perempuan yang benar-benar bisa menjaga kehormatannya demi calon suaminya, menjadi pribadi yang suci yang akan melahirkan calon pejuang Islam yang sejati. Itu sudah sangat lebih dari cukup dibanding alam dan isinya. Sebab Nabi bersabda dalam hadisnya, “Dunia adalah perhiasan, dan paling baiknya perhiasan adalah perempuan shalehah” (HR. Muslim). Lalu adakah yang lebih berharga dari perempuan yang shalehah?

Maka, sebagai kaum hawa yang baik, perempuan harus lebih merapatkan barisan demi menyongsong musuh yang sebenarnya ini. Yang mungkin saja kasat mata dan bisa memporak-porandakan nilai-nilai luhur perempuan muslimah yang anggun dan dihiasi rasa malu yang penuh dengan keimanan itu. Wallahua’lam